Langsung ke konten utama


ARTIKEL PENDIDIKAN


Motivasi merupakan salah satu determinan penting dalam belajar. Para ahli sukar mendefinisikannya, akan tetapi motivasi berhubungan dengan (1) arah perilaku; (2) kekuatan respon (yakni usaha) setelah belajar siswa memilih mengikuti tindakan tertentu; (3) ketahanan perilaku, yaitu berapa lama seseorang itu terus berperilaku menurut cara tertentu[1].
Kata “motif” diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak diri dalam dan di dalam subyek untuk melakukan efektivitas-efektivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat dikatakan sebagai suatu kondisi ekstern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata “motif” itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif[2].
Motivasi memiliki banyak persamaan makna atau beberapa istilah seperti motivasi dalam berbagai literatur, seperti needs, drives, wants, interests, desires. Motivasi merupakan perilaku yang akan menentukan kebutuhan (needs) atau wujud perilaku mencapai tujuan. Seseorang termotivasi untuk mendapatkan sesuatu, maka ia akan berusaha memenuhi kebutuhan (needs) tersebut. Needs merupakan kecenderungan dalam diri seseorang yang bersifat relatif permanen bagi orang-orang termotivasi dan ia merupakan perubahan internal dalam diri akibat dari stimulus yang didapat dari lingkungannya[3].
smiling%20children
Motivasi dapat juga dikatakan sebagai serangkaian usaha untuk menciptakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha meniadakan atau mengelakkan rasa tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor-faktor dari luar tetapi motivasi itu tumbuh di dalam diri seseorang[4].
Memberikan motivasi kepada siswa, berarti kita memberdayakan afeksi mereka agar dapat melakukan sesuatu, melalui penguatan langsung (eksternal), penguatan pengganti dan penguatan diri sendiri.
Dalam proses belajar maka motivasi dapat dikatakan sebagai seluruh daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga kegiatan yang dikehendaki dapat tercapai.
Secara umum motivasi belajar siswa dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu motivasi yang merupakan daya dorong yang datang dari dalam diri siswa yang disebut dengan motivasi intrinsik. Dan motivasi yang merupakan daya dorong yang datang dari luar diri siswa, yang disebut dengan motivasi ekstrinsik.
Beberapa bentuk motivasi ekstrinsik menurut winkel (1989) sebagaimana dikutip Martinis Yamin diantaranya adalah ; (1) belajar demi memenuhi kewajiban; (2) Belajar demi menghindari hukuman yang diancamkan; (3) belajar demi memperoleh hadiah material yang dijanjikan; (4) belajar demi meningkatkan gengsi; (5)belajar demi memperoleh pujian dari orang yang penting seperti orang tua dan guru; (6) belajar demi tuntutan jabatan yang ingin dipegang atau demi memenuhi persyaratan kenaikan pangkat/golongan administratif[5].
Kebanyakan pengajar menginginkan kelas yang penuh dengan siswa-siswa yang memiliki motivasi intrinsik. Tetapi kenyataannya seringkali tidak demikian. Karena itu pengajar harus menghadapi tantangan untuk membangkitkan motivasi siswa, membangkitkan minatnya, menarik dan mempertahankan perhatiannya, mengusahakan agar siswa mau mempelajari materi pelajaran.
Keberhasilan proses belajar mengajar dapat dilihat dalam motivasi belajar yang ditunjukkan oleh para siswa pada saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar-mengajar. hal ini dapat dilihat dalam hal[6]:
a. Minat dan perhatian peserta dalam pembelajaran
b. Semangat siswa dalam melaksanakan tugas-tugas belajarnya
c. Tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugasnya
d. Reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru
e. Rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan.

sumber:https://muttaqienbali.wordpress.com/

Komentar

Posting Komentar